Resensi Anthony Reid “AsiaTenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680″


Gambar

Judul                          : Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680

Penulis                        : Anthony Reid

Penerbit                     : Yayasan Obor Indonesia

Tahun Terbit             : 1992

Kota Terbit                : Jakarta

Jumlah Halaman        : v-xxxiv 1-277

Prof. Anthony Reid, Ph.D. (lahir di Selandia Baru, 1939) adalah seorang sejarawan asal Selandia Baru. Karya-karyanya banyak berkaitan dengan sejarah Aceh sejak berdirinya Kesultanan Aceh, Sulawesi Selatan, dan sejarah modern Hindia-Belanda/Indonesia pada abad ke-20. Ia juga dikenal sebagai pakar sejarah Asia Tenggara.

Perkenalannya dengan Asia (Tenggara) diawali ketika pada usia 13 tahun ia ikut ayahnya bertugas di Indonesia sebagai pegawai PBB selama tiga tahun (1952-1954). Studi doktoralnya di Universitas Cambridge diselesaikan pada tahun 1969 mengenai persaingan antara Kesultanan Aceh, Belanda, dan Inggris di antara tahun 1858-1898.

Selepas meraih Ph.D., ia mengajar di Universitas Malaya sejak 1965. Kemudian ia berpindah mengajar di Universitas Negeri Australia (Australian National University, ANU) dengan keahlian kajian Asia Tenggara. Pada tahun 1978, ia mengambil cuti sabbatical dan bepergian ke Belanda, Inggris, dan Perancis. Hasilnya adalah buku dua volume yang menjadi rujukan penting dalam kajian sejarah Asia Tenggara, Southeast Asia in the Age of Commerce.

Asia Tenggara akan kaya Flora dan Fauna yang melimpah. Flora dan fauna yang dominan di kawasan ini menyebar ke pulau–pulau yang lebih besar ini sebelum terputusnya hubungan darat dengan Benua Asia.

Air dan hutan merupakan dua unsur dominan dalam lingkungan hidup Asia Tenggara. Jadi di satu pihak Asia Tenggara relative bebas dari migrasi dan invasi besar-besaran dari Asia Tengah. Unsur lainnya, hutan melimpah bukan karena tanah, yang ditandai oleh kemiskinan relative dari sebagian besar kawasan tropis, melainkan karena suhu udara serta curah hujan yang relative tinggi. Dan Asia Tenggara merupakan kawasan dunia dengan suhu udara yang tidak mengalami perubahan sepanjang tahun.

Beras merupakan bahan makanan dan hasil bumi paling cocok di Asia Tenggara. Dan beras jelas merupakan barang dagangan terbesar di Asia Tenggara. Terlepas dari kantong–kantong penanaman padi intensif ini, di mana–mana Asia Tenggara masih penuh dengan tanah yang tidak di garap di perbukitan dan hutan – hutan, yang tersedia bagi siapa pun yang ingin mengolahnya. Peralatan pertanian sangat sederhana dan seragam, dan semuanya menunjukkan tidak di gunakannya barang yang langka, yakni besi. Lebatnya rimba raya Asia Tenggara menutup kemungkinan lahirnya tradisi padang–padang gembala yang membuar Eropa serta Asia Tengah dan Barat begitu banyak makan daging. Makan daging selalu bermakna ritus karena kaitannya yang erat dengan upacara pengorbanan hewan. Daging yang banyak tersedia adalah ayam, babi dan kerbau. Ada alasan untuk percaya bahwa konsumsi daging bagi orang Asia Tenggara berangsur-angsur menurun, keragaman maupun besarnya, begitu pengaruh agama-agama dunia menjadi lebih kuat.

Melimpahnya air merupakan salah satu ciri tanah di bawah angin, dan keborosan penggunaannya sudah menjadi kebiasaan penduduknya. Dalam meneliti praktik medis orang Asia Tenggara, kita tidak boleh terlarut larut dalam aliran-aliran teoretis. Keingintauhuan orang Eropa tentang system kerja tubuh akan memberikan terobosan istimewa. Pada abad ke-16 dan 17 orang Eropa sudah di butuhkan untuk menjadi seorang tabib. Pada abad ke-17penyembuhan besar-besaran dilakukan oleh tabib-tabib setempat dengan memanfaatkan ramuan dan obat-obatan rakyat. Ramuan tumbuhan, mandi, pijat merupakan bagian dari system pengobatan dari Asia Tenggara.

Di satu kawasan yang suasana malam harinya merupakan saat paling nyaman dan pesta serta hiburan bisa berlangsung hingga fajar, alat penerangan yang efisien sangat penting. Lilin tampaknya dipakai tidak sesering lampu minyak tanah. Asia Tenggara mempunyai dua tempat dari zaman kuno di mana minyak tanah mengalir cukup dekat ke permukaan untuk dialirkan ke dalam sumur.

Tubuh itu sendiri merupakan medium kesenian paling awal dan paling penting. Di Asia  Tenggara, hiasan telinga begitu populernyadi kalangan pria maupun wanita, setidak-tidaknya hingga abad ke-14. Dan Merajah kulit badan juga merupakan salah satu bentuk seni tubuh yang khas Asia Tenggara, dan tentu saja bagi orang Austronesia yang meneruskannya kepada orang Pasifik Selatan. Fungsi utama tato di Asia Tenggara sebagai jimat.

Tujuan perang ialah untuk meningkatkan jumlah tenaga manusia, bukan untuk membuang-buangnya dalam suatu pertumpahabn daerah mati-matian. Pasukan dibangun dengan memerintahkan kaum bangsawan dan orang-orang terkemuka suatu negeri untuk membawsa pasukannya atas biaya sendiri, dan para komandan sangat enggan kehilangan orang-orangnya dalam peperangan, sebab merekalahh kunci bagi kedudukannya.

Sumber-sumber hukum di Asia Tenggara tampaknya beragam. Raja-raja terkuat tampakya memiliki kekuatan hokum monolitik, sedangkan di banyak daerah setiap desa dan komunitas etnis mempertahankan system peradilannya sendiri. Beberapa ciri khas Asia Tenggara menjiwai hamper semua system yang kelihatannya beragam ini. Keadilan dilaksanakan secara cepat dan langsung.

Hubungan antara pria dan wanita merupakab salah satu aspek hubungan social di mana pola Asia Tenggara terlihat dengan jelas. Otonomi relative yang dimiliki kaum wanita berlaku hingga ke masalah hubungan seksual.

Pola perkawinan yang dominan ialah yang bersifat monogamy, dengan perceraian yang relative mudah bagi pria maupun wanita. Sangat umum dikalangan orang biasa, bahwa pola monogamy dikukuhkan dengan mudanya perceraian. Yang menarik ialah, jika keperawanan kaum wanita disebutkan factor utama dalam perkawinan, hal itu lebih dipandang sebagai kekurangan daripada sebagai keuntungan.

Pesta-pesta kerajaan dan agama memberi raja kesempatan untuk mempertunjukkan diri di hadapan rakyatnya dengan segenap keagungannya. Meskipun perlombaan besar ini pada umumnya disponsori dan hingga tingkat tertentu dikuasai oleh raja, namun sekaligus juga tampak sebagai acara keramaian yang paling popular di kalangan rakyat. Bagi kalangan pengunjung dari Eropa, orang Asia Tenggara kelihatannya selalu menyanyi, menari dan mementas. Utusan dan pengunjung yang penting-penting secara tetap dihibur dengan tarian atau sandiwara. Bisa dikatakan bahwa tarian berasal dari zaman yang purba sekali.

Para pengunjung awal dari Eropa ke Asia Tenggara tepukau oleh tingginya tingkat kemampuan baca-tulis yang mereka jumpai disana. Paling tidak semua kesaksian tentang kemampun baca-tulis yang nyaris menyeluruh itu mengejutkan dilihat dari sisi masyarakat praindustri yang tidak memiliki tradisi cetak-mencetak atau system pendidikan formal. Ada dua factor yang berlaku dari semua negeri dibwah angin. Pertama, daun lontar dan bilah bamboo sebagai sarana untuk menulis di benua tersedia sebanyak di kepulauan. Lebih penting lagi, dominannya kedudukan kaum wanita di bidang perdanganan serta besarnya peranan mereka dalam perlombaan syair mencari jodoh menandai seluruh Asia Tenggara.

Bangsa-bangsa Asia Tenggara tetap merupakan pelaku utama dari perluasan niaga yang menjadi  inti dari transformasi ini hingga abad ke-17. Namun, tatkala pasang naik imperialism dan kapitalisme membajiri mereka pada akhir abad ke-19, negeri-negeri ini tak lagi mampu bersaing atas patokan-patokan yang sama dengan bangsa-bangsa pengusik, seperti yang berlaku selama kurun niaga mereka.

Dalam karya Anthony Reid dalam aspek politik disini agak di abaikan. Namun yang menjadi perhatian Reid adalah mengenai geografi, demografi, pakaian, pesta rakyat dan kerajaan, perumahan, material culture, dll. Dalan jilid 1 Anthony Reid yang sedang kita bahas ini jumlah halamannya agak lebih sedikit yakni sekitar 250 halaman. Walaupun Anthony Reid mengakui juga adanya perbedaan antara penduduk pegunungan, daratan rendah, dan pantai karena factor geografis, namun perbedaan-perbedaan ini untuk sementara tidak dibahas lebih lanjut.

Kedudukan atau posisis Asia Tenggara tidak kecil dalam peraturan dunia, walaupun ini harus diteliti. Karya Anthony Reid ini menerangkan hal ini lebih lanjut. Dan juga Anthony Reid sangat menekankan persatuan wilayah Asia Tenggara sebagai suatu unit. Sebagaimana sudah diungkapkan, Anthony Reid berhasil menyakinkan kita akan kesatuan hidup dan peradaban di Asia Tenggara. Dan apabila saat ini studi mengenai Asia Tenggara memperoleh legimitasi, maka ini sedikit banyak karena karya Anthony Reid.

Aspek lain yang menarik dari karya Anthony Reid adalah soal demografi (kependudukan) dan permukiman kota dan desa (urban dan rural). Hampir semua daerah di Asia Tenggara sangat sedikit penduduknya walaupun tanahnya berlebihan.Sebagian lahan berupa hutan tropic atau rawa-rawa. Di seluruh Asia Tenggara ternyata jumlah penduduk dapat diartikan sebagai jumlah pengikut dan ini merupakan ukuran dan obsesi bagi kerajaan-kerajaan yang ada. Angka-angka jumlah penduduk yang diberikan oleh Anthony Reid, yang diambil dari pengamat Barat dan juga para pelaut, meskipun keakuratannya diragukan, setidak-tidaknya cukup menyakinkan sebagai pegangan dan basis untuk sejarah demografi dan permukiman urban di Asia Tenggara.

Pendapat Anthony Reid mengenai manusia Asia Tenggara sebagai homo ludens, kelihatannya Anthony Reid kurang bisa menunjukkannya serta menganalis konsekuensinya. Dan juga Anthony Reid agak mengabaikan pengaruh social-politik dari sifat homo ludens masyarakat Asia Tenggara. Padahal soal ini sangat penting. Contohnya, antara lain bila seorang penguasa local tidak dalam pesta, olah raga atau ngabekten kraton makan dia akan dicurigai sebagai pemberontak. Jadi jelas, keikutsertaan serta peran seseorang di dalam acara tersebut ikut menentukan kedudukan social-politik dalam kerajaan.

Ada satu gejala di Asia Tenggara yang tampaknya juga kurang tersentuh oleh Anthony Reid, yaitu soal-soal yang non-formal. Itu antara lain, seperti soal banditisme, perompak laut, sekte-sekte agama, para guru agama dan dukun, gerakan-gerakan mesianis dan lain-lain yang sejenis.

Anthony Reid tidak menjumpai kekuatan adikuasa, di kepulauan Indonesia maupun Asia Tenggara secara umum. Dan justru melacak keseragaman dan bukan penyimpangan, masyarakat di Asia Tenggara. Ada dua aspek dari karya Anthony Reid ini yang tidak dapat dilupakan nilainya yakni mengenai studi kota dan demografi. Diperlihatkan oleh Anthony Reid bahwa kelangkaan penduduk dan tanah-tanah yang relative subur serta luas, sedikit banyak mempengaruhi penilaian kita terhadap lembaga-lembaga kehidupan tradisional, sifat loyalitas dan gotong-royong dan lainnya yang sejenis. Dari sini bisa dikatakan bahwa obyektivitas sejarah sosiologi dan ekonomi tentang masakini tidak dapat mengabaikan romantisme tentang  masyarakat tradisional dan ideology pada masa lalu.

 

 

Tentang ishlahseilla

always be positive....!
Tulisan ini dipublikasikan di Sejarah dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s