Resensi Gerakan Rakyat Kelaparan Gagalnya Politik Radikalisasi Petani


Judul                           :    Gerakan Rakyat Kelaparan                                                          (Gagalnya Politik Radikalisasi Petani)

Penulis                         :    Fadjar Pratikto

Penerbit                       :    Media Pressindo

Tahun Terbit                :    2000

Kota Terbit                  :    Yogyakarta

Jumlah Halaman          :    xxxvi + 224 hlm

Fenomena Gerayak merupakan puncak dari berbagai persoalan ekonomi, sosial, dan khususnya politik di pedesaan Gunung Kidul dari tahun 1959-1964. Sedang faktor kelangkaan pangan yang terjadi merupakan momentum bagi gerakan tersebut. Keadaan masyarakat Gunung Kidul yang mayoritas penduduknya miskin dan kekurangan pangan serta mengalami kegagalan dalam produksi pangan, kemudian menjadi agenda politik yang menarik dan potensial bagi partai-partai politik dan organisasi petani.

Salah satu partai yang mendapat keuntungan dari keadaan tersebut adalah PKI dengan organisasi petaninya yakni BTI. Dominasi PKI dan BTI dalam konstelasi politik local Gunung Kidul tentu saja membuat partai-partai lain menjadi khawatir akan kekuasaannya. Dalam hal ini PNI dengan petani-nya merupakan partai yang secara terbuk menjadi lawan politiknya, karena mereka merasa tersaingi dan terancam kedudukannya di jajaran pemerintah daerah dan kelurahannya.

Bersamaan dengan aksi-aksi Gerayak, di daerah pedesaan Gunung Kidul pada masa itu juga sering terjadi penggedoran-penggedoran (grayak) atau perampokan terhadap rumah orang-orang kaya di desa oleh segerombolan orang-orang yang tidak jelas asal-usulnya dan tendensi politiknya.

Hal itu membuat tumpang tindih antara aksi Gerayak dengan Grayak, dimana keduanya hampir sama pola gerakannya. Perbedaannya aspek politis lebih melekat pada Gerayak dengan cara-caranya yang relative  halus, sedangkan aspek criminal lebih melekat pada Grayak karena tindakan-tindakan kekerasan yang sering dilakukannya dalam setiap aksinya.

Kekaburan itu tidak menguntungkan PKI dan BTI yang selama ini menggunakan Gerayak sebagai alat dan strategi lokalnya untuk mengatasi masalah pangan anggotanya, serta melatih militansi anggotanya dalam kerja-kerja politiknya. Sebab, tindakan Grayak itu telah mencoreng mukanya dan membuat kesan yang buruk atau jahat terhadap aktivitas Gerayak – hal mana sesuai dengan pendapatnya Ted Guur tetang “tingkah laku massa yang agresif” yakni kecenderungan tindakan kekerasan politik atau political violence dari sudut psikologi sosial.

Dengan demikian, Gerayak sebagai strategi politik PKI dan BTI di tingkat local Gunung Kidul secara umum tidaklah berhasil memperhebat ketengangan sosial (kelas) di daerah pedesaan, serta tidak mampu menjadi gerakan politik yang terpadu bagi kaum tani. Padahal kalau kita melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat desa disana pada waktu itu sangatlah kondusif, di mana kehidupan para petani sudah melewati ambang batas subsistensi, dan sudah masuk dalam kategorinya Scott yakni “kerawanan structural”. Namun karena kondisi itu tidak mmpu digunakan oleh PKI dan BTI dalam membolisir para petani secara terarah, dan membuat tuntutan-tuntutan yang realities bagi mereka, maka aksi protes yang dilakukan lewat Gerayak tidaklah bisa memiu radikalisasi massa petani secara lebih besar.

Ketidakmampuan PKI dan BTI dalam memicu radikalisasi massa petani secara luas, dimungkinkan juga kalau kita paralelkan dengan penjelasan ekonomi politik tentang gerakan petani bahwa protes-protes merupakan tindakan kolektif dan tergantung kepada kemampuan kelompok untuk mengorganisir dan membuat tuntutan-tuntutan. Atau relevan pula dengan dimensi yang dipakai oleh Landsberger dan Alexandrov bahwa keberhasilan suatu gerakan ditentukan oleh tingkat di mana aksi tersebut bersifat kolektif baik, dalam lingkup koordinasi dan organisasi aksi. Di sini PKI dan BTI tidak mampu memenuhi semua tuntutan objektif itu, sehingga wajar kalau Gerayak mengalami kegagalan total.

Di samping faktor  taktis organisasi, kegagalan Gerayak juga disebabkan oleh faktor structural yakni masih terpeliharanya hubungan patron-klien antara petani miskin yang kelaparan dengan para petani kaya (tuan rumah) yang seringkali memberikan makan kepada mereka, sehingga mereka sudah dimobilisasi dalam suatu gerakan yang frontal menyerang tuan-tuannya. Di samping itu, faktor cultural masih kuatny nilai-nilai dan norma-norma di daerah pedesaan telah membuat para petani menjadi ragu dan sungkan untuk bersikap “tidak sopan” dan”kurang ajar” kepada orang yang pernah berbaik hati kepadanya.

Kelebihan pada buku ini, dalam bahasa dalam buku ini sangat mudah dipahami sehingga mudah dimengerti dan memahami sedangakan kekurangan pada buku ini adalah dalam teknik penulisan yang digunakan penulis kurang sistematis karena kurang terdapat ilustrasi gambar dalam memaparkan materi yang terkait.

 

Tentang ishlahseilla

always be positive....!
Pos ini dipublikasikan di Sejarah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s