Peristiwa 17 Oktober 1952


A.    Identitas Buku

Judul                          : Peristiwa 17 Oktober 1952

Ketika “Moncong” Meriam Mengarah ke Istana Merdeka

Penulis                         : Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution

Penerbit                       : NARASI

Tahun Terbit                : 2012

Kota Terbit                  : Yogyakarta

Jumlah Halaman          : 112 hlm

B.     Sinopsis

Peristiwa 17 Oktober 1952

Ketika “Moncong” Meriam Mengarah ke Istana Merdeka

            Segala sesuatu membawa kepada pergolakan politik antar partai/golongan termasuk ABRI yang semakin kritis, akhirnya membahayakan persatuan bangsa dan kesatuan negara dengan berbagai pergolakan/pemberontakan, di mana kuasa-kuasa dunia besar dari Barat dan Timur sama-sama bergiliran melakukan intervensi tertutup, dan di masa Jenderal A.H. Nasution kebetulan sebagai KSAD/Penguasa Darurat (1955-1962) bertugas memimpin pemulihan keamanan negara.

Mencari identitas perjuangan yang sewajarnya. Pertama mencari sistem kenegaraan yang lebih sesuai di mana masyarakat akan lebih berkesempatan secara mantap untuk mengejar cita-cita kesejahteraan dan keadilan sosial.

Kedua mencari sistem ketentaraan yang sesuai dengan kepribadian kita, kondisi kita, dalam menghadapi tantangan-tantangan di depan kita. Keduanya kita tampung dalam kembali ke UUD ’45. Maka peristiwa 17 Oktober adalah salah satu mata rantai yang kritis dalam keseluruhan pergolakan itu. Karena itu uraian ini tidak sekedar mengenai peristiwa saja, tapi adalah pula mengenai seluruh proses tahun 50-an itu beserta kelanjutannya.

Peristiwa 17 Oktober sebagai salah satu mata rantai dalam perkembangan politik RI yang terjadi selama dasawarsa 50-an, yakni sehabis gerilya dalam suasana UUD-Sementara dengan gejala keresahannya, di mana kita mencari kembali identitas perjuangan, di mana pula antara lain presiden mencari posisinya dan di mana TNI mengusahakan posisinya dengan kembali ke UUD ’45.

Sebagai MKN/KSAD, yang dalam jabatan KSAD lebih 10 tahun berposisi sentral menghadapi berbagai pergolakan tersebut, kepada pemimpin negara Jenderal K.H. Nasution telah pernah mengajukan kesimpulan, bahwa pergolakan-pergolakan tersebut tidak perlu terjadi bergitu banyak dan begitu luas, jika sejak semula pemimpin nasional dengan sungguh-sungguh mengikhtiarkan semakin tertegaknya kehidupan berkonstitusi menurut UUD ’45.

Pada puncak krisis dalam Sidang Umum MPRS 1966 (dalam Majelis dan pimpinan ABRI masih kuat mendukung terhadap beliau) yakni berhubung presiden menolak konsep TAP XIII yang menugaskan Supersemar membentuk Kabinet Ampera, selaku ketua MPRS Jenderal K.H. Nasution berhadapan dengan beliau. Presiden menuduh member senjata kepada mahasiswa dengan slogan “laksanakan UUD ’45 murni dan konsekuen”, yang menuduh presiden tidak konsekuen kepada UUD ’45. Beliau menyebut Tap tersebut sebgai tidak konsekuen kepada UUD ’45 dan akan menolaknya atas dasar itu, akhirnya konsep dapat Jenderal K.H. Nasution pertahankan dengan membubuhi suatu pasal penjelasan.

Memang dalam Majelis belum ada suara yang hendak mengganti presiden, bahkan dalam Siang Istimewa tahun 1967-pun berbeda fraksi dan ke 4 pimpinan ABRI dengan lisan dan tertulis masih mempertahankan BUNG KARNO formal sebagai presiden. Juga Jenderal SUHARTO tidak bersedia diambil sumpah menurut sumpah presiden yang termaktub dalam UUD ’45, karena berpendapat bukanlah beliau presiden. Dalam rangka itu Pd. Presiden mengeluarkan keputusan yang memperlakukan BUNG KARNO sebagai Presiden secara administratif dan protokoler.

Soal pemurnian pelaksanaan UUD ini rupanya sering dirasakan oleh Presiden SUKARNO sebagai serangan terhadap beliau, adapun mengenai posisi TNI dalam perkembangan Orde Baru, sekali lagi seperti Jenderal K.H. Nasution ceramahkan di SESKOAD tahun 1969 hendaknya dalam tahun ’70-an diusahakan terus pemurnian dari pengertian-pengertian dan pengalaman kekaryaan TNI itu demi menjamin identitasnya sebagaimana maksud bersama semula.

C.    Kelayakan Buku

Buku ini telah membantu saya dalam memahami dalam peristiwa 17 Oktober 1952. Karena dalam buku ini telah berhasil menghadirkan dimensi yang sensitive dan disembunyikan dari kehidupan politik dan pemerintahan kita.

Terdapat pula lampiran-lampiran yang berupa kesaksian. Sehingga tidak hanya menurut pelaku saja yang dituangkan di dalam buku ini. Ada beberapa pendapat tentang apa yang sesunggunya terjadi dengan kejadian yang kelak dengan “Peristiwa 17 Oktober 1952” itu. Ada yang menuding PSI, yang saat itu memainkan kartu anti-Sukarno dan anti-komunis, berada di balik gerakan tersebut. Presiden  Soekarno sendiri dan beberapa pihak juga memandang peristiwa 17 Oktober 1952 sebagai percobaan “Setengah Coup” militer terhadap Presiden Soekarno.

Selain itu dari segi latar belakang penulis sendiri yang merupakan seorang Jenderal Besar sehingga penulis mampu menyelami masalah di dalam peristiwa 17 Oktober 1952 secara konsisten dann teruji kan beliau juga seorang pelaku di dalamnya.

Tentang ishlahseilla

always be positive....!
Pos ini dipublikasikan di Sejarah dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Peristiwa 17 Oktober 1952

  1. djaelisme berkata:

    Duchg !!! IShlah Seilla ” Smart ”🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s